Kronologi Penangkapan Sindikat Pembuat Uang Palsu Rp400 Juta

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Agung Setya mengungkapkan kronologi penangkapan sindikat pembuat uang palsu Rp400 juta. Hal ini dimulai dari penemuan uang palsu pecahan Rp100 ribu di Majalengka, Jawa Barat, pada September 2017.

“Akhirnya kami lakukan penyelidikan dan pada 9 Oktober kami menangkap dua orang tersangka inisial M dan S di Jatiwangi, Majalengka,” kata Agung di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu 18 Oktober 2017.

Menurut Agung, M dan S berperan sebagai pengedar uang palsu. Dari keduanya, polisi mendapatkan barang bukti uang pecahan Rp100 ribu masing-masing 177 lembar dan 196 lembar, serta satu telepon genggam.

Keduanya mengaku mendapatkan uang palsu dari Surabaya. Polisi lalu menelusuri dan berhasil menangkap pelaku lain, RS.

“RS ini pengedar, sementara suaminya GK alias I adalah seorang pembuat, tapi I masih kabur saat itu. Kami menggeledah rumah mereka di Bangkalan Madura, Jawa Timur,” beber Agung.

Polisi mendapatkan beberapa barang bukti dari tangan RS. Di antaranya, tiga lembar uang palsu, komputer, printer, mesin offset, sablon, peralatan cetak, dua mobil, empat sepeda motor, dua telepon genggam, dan satu rumah.

Pada 13 Oktober 2017, polisi menangkap T yang berperan membantu I dalam membuat uang palsu, tak jauh dari kediaman RS. Pada 14 Oktober, GK alias I yang sebelumnya melarikan diri berhasil ditangkap.

“Tersangka I ditangkap di dalam goa di kawasan Taman Nasional Baluran, Situbondo. Dia dapat saran dari dukun untuk sembunyi di goa agar tidak ditangkap polisi,” sambung Agung.

Polisi lalu menangkap pelaku keenam, yakni AR, pada 16 Oktober 2017 di Stasiun Kereta Api Cirebon, Jawa Barat. AR bertugas sebagai pemberi modal kepada GK alias I untuk membuat uang palsu.

“AR menyerahkan uang tunai sebesar Rp120 juta untuk dijadikan uang palsu. Modus operandinya membuat uang palsu dengan komputer dan cetak sablon,” ungkap Agung.

Para pelaku pun dijerat Pasal 36 dan Pasal 37 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, serta Pasal 3 dan Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Mereka terancam hukuman maksimal penjara seumur hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *