Wayang Ajen Ikut Mengangkat Potensi Wisata Banten

Pertunjukan apik Wayang Ajen sukses menutup ajang Pameran 30 Ikon Kuliner Nusantara di Alun-Alun Barat Kota Serang, Banten, Sabtu (25/11/2017). Tidak hanya itu, penampilan Wayang Ajen juga menjadi atraksi wisata budaya yang turut memperkuat sekaligus mengangkat potensi wisata Banten yang begitu kaya.

Wayang Ajen Ikut Mengangkat Potensi Wisata Banten

“Seperti diketahui, Banten punya ragam potensi wisata yang besar. Tidak hanya budaya, kuliner, tapi juga alamnya yang indah,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati.

Selama satu hari penuh, Alun-Alun Barat Kota Serang dipadati masyarakat. Dimulai dari pagi hari dengan pameran 30 ikon kuliner nusantara. Deretan kuliner seperti Satai Maranggi, Satai Ayam Madura, Rendang Padang, Nasi Tumpeng, Es Bir Pletok, Kunyit Asam Solo dan lainnya disuguhkan kepada masyarakat.

Tidak hanya pameran kuliner, demo masak dari dua chef andal, Sisca Soewitomo dan Chef Marco Lim semakin memeriahkan acara.

Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata, Vita Datau mengatakan, 30 Ikon Kuliner Nusantara adalah program dari pemerintah pusat dalam membangkitkan potensi wisata Indonesia melalui kuliner.

“Tapi tidak boleh berhenti sampai disitu saja. Bahwa ikon tersebut harus menjadi pemantik bagi pengembangan kuliner daerah,” ujar Vita Datau.

Untuk itu ia berharap, kehadiran pameran kuliner ini bukan sebagai ajang mengenalkan makanan daerah lain di Banten, tapi justru menjadi pemantik agar masyarakat ataupun komunitas dapat mengembangkan dan mendorong kuliner khasnya sebagai daya tarik wisatawan.

“Berdasarkan data, wisata kuliner adalah penyumbang PDB terbesar pada industri ekonomi kreatif. Artinya, wisatawan itu dalam pengeluaranya, 30 persen dikhususkan untuk makanan dan oleh-oleh,” ujar Vita Datau.

Banten pun, ujar Vita Datau, punya potensi itu. Rabeg misalnya, yang merupakan makanan khas dari Serang, Banten.

“Nah bagaimana makanan ini bisa dikreasikan. Kuncinya ada tiga, yaitu Rasa, Rupa dan Rekayasa,” ujar Vita.

Satu makanan dapat dikembangkan atau dipromosikan secara luas ketika dia memiliki rasa yang enak yang bisa disesuaikan dengan selera orang banyak. Kemudian rupa, bahwa makanan itu presentasinya harus bagus.

“Rekayasa, adalah makanan itu bisa dimasak dengan mudah. Bagaimana caranya? Melalui kegiatan inilah diharapkan potensi wisata khususnya kuliner di Banten dapat dikembangkan,” ujar Vita Datau yang dalam acara turut dihadiri Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kemenpar, Mumus Muslim.

Begitu juga dengan suguhan Wayang Ajen yang ditampilkan sebagai pemuncak acara.

Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti mengatakan, kehadiran pementasan Wayang Ajen tentunya diharapkan menjadi atraksi wisata budaya bagi masyarakat dan wisatawan. Namun tentunya, suguhan ini justru mengangkat potensi wisata budaya lainnya yang ada di Serang, dan Banten pada umumnya.

“Wayang Ajen memang punya daya tarik kuat. Banyak wisatawan yang selalu memburu penampilannya. Ketika hadir di Serang, maka wisatawan itu tidak hanya menikmati Wayang Ajen, tapi apa yang menjadi daya tarik lainnya yang ada di Banten. Kehadiran acara ini justru memperkuat potensi wisata budaya yang ada di Banten,” ujar Esthy didampingi Kepala Bidang Promosi Wisata Budaya Kemenpar, Wawan Gunawan.

Dalam kesempatan itu, sebelum pementasan, digelar juga edukasi budaya bagi anak-anak untuk bisa mencintai wayang. Anak-anak, dengan didampingi dua orang dalang dari Wayang Ajen, diajak untuk mengetahui lebih dalam tentang wayang. Mereka diajarkan tentang filosofi wayang, bahkan mereka diajak berinteraksi langsung untuk memainkan wayang.

Dengan ini tentunya diharapkan akan dapat tumbuh kecintaan anak-anak terhadap wayang.

“Dengan begitu, ketika anak-anak sudah mengenal, maka mereka akan semakin mudah dalam mengembangkan budaya-budaya yang ada di Banten. Termasuk wayang garing khas Banten,” ujar Wawan Gunawan.

Wawan mengatakan, anak-anak diberi ruang dan waktu untuk benar-benar mengenal wayang sebagai bagian dari budaya yang besar di Indonesia.

“Diharapkan mereka akan mencintai seni dan budaya. Sehingga nantinya andil mereka dalam membesarkan budaya Banten semakin tinggi,” ujar Wawan.

Pertunjukan Wayang Ajen yang dimulai pukul 20.00 WIB tadi malam sendiri dipadati ribuan penonton. Mereka sangat antusias menyaksikan suguhan dari Wayang Ajen yang mengkolaborasikan antara wayang golek, multimedia dan komposisi musik, tari, musikalisasi puisi, dakwah, musik pop dan lawak. Dalam satu pertunjukkan serta didukung juga penataan artistik panggung, keserasian tata cahaya, serta kostum yang harmonis layaknya sebuah konser yang diminati anak muda.

“Pagelaran yang bagus sekali. Luar biasa menarik, Wayang Ajen mampu menyampaikan nilai tontonan yang berkualitas dan nilai tuntutan moral keagamaan serta mendorong promosi pariwisata Banten,” ujar Asda II Pemprov Banten, Ino S Rawita.

Hal senada juga disampaikan Ustaz Agus dari salah satu pesantren di Serang. Ia mengatakan apa yang disuguhkan Wayang Ajen menyentuh qolbu dan memberi bekal tontonan yang penuh tuntunan. “Suasana spritualnya terasa,” ujar Ustaz Agus.

Tidak hanya tuntutan, Wayang Ajen juga menghadirkan tontonan yang memukau sekaligus menghibur.

“Penampilannya spektakuler. Lucu abis, nggak bikin ngantuk,” ujar Rina, salah seorang penonton dari Tangerang.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi suguhan promosi wisata kuliner sekaligus penampilan dari Wayang Ajen. Ia mengatakan apa yang dihadirkan Kementerian Pariwisata bersama Dinas Pariwisata Provinsi Banten diharapkan dapat semakin meningkatkan dan mengangkat potensi-potensi yang ada di daerah. Dalam hal ini adalah Serang dan Banten pada umumnya.

“Banten yang jaraknya dekat dengan Jakarta serta aksesnya yang mudah punya potensi besar dalam pengembangan pariwisata. Untuk itu diharapkan semua unsur pentahelix, mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, media, dan komunitas dapat sama-sama mengangkat pariwisata Banten. Ayo ke Banten. Exciting Banten,” ujar Menpar Arief Yahya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *