Perusahaan Uber Bobol Rival Serta Politisi?

Bulan lalu, informasi yang beredar menyebut Uber memiliki unit rahasia yang ditujukan untuk mencuri rahasia perdagangan, mengawasi kompetitor, menggunakan pesan yang dapat rusak dengan sendirinya dan menghindari regulasi pemerintah.

Perusahaan Uber Bobol Rival Serta Politisi?

Tuduhan tersebut berasal dari mantan anggota tim keamanan Uber, Ric Jacobs, yang mengungkapkannya dalam dokumen sebanyak 37 halaman. Pada dokumen yang dikirimkan kepada manajemen Uber awal tahun 2017 tersebut, Jacobs menjelaskan secara terperinci perilaku curang Uber.

Sebelumnya, sebagian kecil informasi yang dituangkan pada dokumen tersebut dibacakan di pengadilan. Kini, sebagian salinan dokumen menjadi dokumen publik sebagai bagian dari litigasi yang tengah berlanjut antara Uber dan Waymo, unit kendara mandiri Alphabet.

Dokumen yang disebut sebagai Surat Jacobs telah menjadi pembicaraan terhangat saat ini terkait kasus antara dua raksasa teknologi tersebut, mengenai masa depan kendaraan nirsopir. Dokumen tersebut menambah daftar panjang riwayat masa sulit Uber pada tahun ini.

Sebelumnya, Uber harus menghadapi serangkaian skandal yang ditimbulkan perusahaannya, menyebabkan peningkatan prospek hukuman untuk Uber. Sekilas, surat Jacobs tersebut menjelaskan dengan sangat detil terkait sejumlah tindakan pelanggar hukum yang dilakukan Uber.

Jacobs menunduh bahwa unit rahasia Uber bernama Strategic Services Group (SSG) secara berkala terlibat di kericuhan dan pencurian, dan mempekerjakan vendor pihak ketiga untuk mengelola fata atau informasi tidak resmi.

Jacobs juga menuduh petugas keamanan Uber meretas dan merusak bukti terkait dengan pengawasan terhadap kelompok oposisi. Selain itu, Jacobs juga menyebut bahwa mantan CEO Uber, Travis Kalanick mengetahui hal tersebut.

Pegawai Uber lainnya, Nicholas Gicinto, bersama SSG, mengadakan operasi virtual untuk meniru identitas protester, mitra pengendara Uber, dan operator taksi.

Pegawai keamanan Uber tersebut memiliki peluang besar untuk menyembunyikan aktivitas pengawasan mereka dari pihak berwenang.

Petugas tersebut menggunakan komputer yang tidak dibeli oleh Uber yang menjalankannya via perangkat Mi-Fi, sehingga trafik tidak muncul di jaringan Uber. Tim tersebut juga disebut Jacobs, juga menggunakan jaringan publik virtual dan arsitektur non-atribusi Amazon Web Services terkontrak, untuk menyembunyikan upaya mereka.

Jacobs menyebut SSG menargetkan sejumlah pihak, termasuk politisi, regulator, badan hukum, organisasi taksi dan persatuan pekerja, yang berlokasi setidaknya di wilayah Amerika Serikat. Tim tersebut juga disebut Jacobs memanfaatkan kemampuannya untuk mendapatkan dana investasi sebesar USD3,5 juta (Rp47,5 miliar) dari investor asal Arab Saudi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *