Dari Balik Penjara Gino Belajar Mengkafirkan Orang

Hukuman penjara untuk membuat pelaku kejahatan jera agaknya tak selalu demikian. Abu Gino, mantan pengikut kelompok radikal yang pernah menjadi terpidana menyaksikan sendiri bahwa di balik jeruji besi seseorang yang diharapkan bisa bertaubat justru semakin jahat.

“Di penjara dapat materi baru yang lebih keras dan membuat saya semakin yakin bahwa memerangi pemerintah dan sebagainya itu sangat wajib,” ungkap Gino, dalam News Story Insight (NSI), Kamis 21 Desember 2017.

Mungkin Gino sedikit terpukul ketika akhirnya Ia masuk bui akibat terlibat dalam aksi amaliah. Namun setelah mengetahui bahwa penjara bukanlah halangan untuk menebarkan paham radikal, Gino tenang.

Ia mengaku belum banyak mencerna setiap materi jihad yang didapatkan selama ini. Tetapi sampai di penjara, Ia bertemu kelompok yang lebih ekstrem yang mengajarkan pemahaman lebih keras dari yang pernah Ia dapat.

Salah satu contoh adalah pemahaman takfiri atau mengkafirkan orang lain yang tak sama pemahaman dengan kelompok radikal Ia dapatkan justru dari balik jeruji besi.

“Sebelum bertemu mereka motif jihadnya murni, kita tidak diberikan materi takfiri. Begitu di penjara diberikan materi mudah mengkafirkan orang lain di luar pemahaman,” ungkapnya.

Meski tak lagi dapat menjaring anak muda untuk bergabung dengan kelompok radikal, dari balik jeruji besi, mereka yang dipidana terkait kasus terorisme masih bisa merekrut anggota.

Target kaderisasi anggota radikal justru berasal dari para terpidana yang dihukum setelah melakukan berbagai tindak kejahati. Pemahaman bahwa para ‘preman’ ini lebih mudah didekati dan dipengaruhi membuat kelompok radikal masih bisa melebarkan sayapnya dari dalam penjara.

“Ada yang tua ada yang muda. Tapi yang muda lebih berani melakukan hal-hal yang menimbulkan kerusakan besar. Saya mengalami sendiri bahwa salah satu orang yang saya bina waktu itu menjadi orang yang sangat keras dan radikal,” katanya.

Meski kini Ia sudah bertaubat dan ‘pensiun’ dari dunia hitam terorisme, pemahaman yang Ia tanamkan kepada sesama terpidana ketika di penjara dulu tak bisa ditarik kembali.

Memberi nasehat untuk tidak melakukan amaliah sudah tak lagi berlaku. Ia kemudian mendapati bahwa ‘anak asuh’ yang sempat Ia bina dari balik penjara tewas ditembak aparat.

“Informasi yang saya dengar ketika itu dia mengancam meledakkan diri sehingga keburu dieksekusi aparat,” ungkapnya.

Kini, pola rekrutmen anggota kelompok radikal sudah berubah. Gino mengakui bahwa kecanggihan teknologi terutama adanya media sosial dan internet memudahkan kelompok radikal menyebarkan pemahamannya ke para pengguna internet.

Dikendalikan dari Suriah, anggota kelompok radikal kemudian membuat komunitas dan perkumpulan melalui media sosial untuk mengajarkan paham radikal. Bukan hanya teknis membuat bom atau merakit senjata, melalui media sosial fatwa-fatwa menyesatkan pun disebar.

Misalnya, kata Gino, bagi pengikut yang tidak bisa sampai ke Suriah cukup melakukan amaliah atau operasi dengan senjata yang dimiliki di tempat masing-masing. Mereka yang bisa merakit bom dipersilakan beraksi dengan bom, atau yang hanya memiliki pisau bisa beraksi dengan pisau.

“Apapun itu harus dilakukan meskipun sendirian. Makanya ada filosofi lebih baik jadi singa satu hari daripada serigala bertahun-tahun.”

“Artinya jangan cuma menggonggong tapi beraksilah seperti singa meskipun sendirian. Inilah yang dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek kerugian, yang penting amaliah terus berjalan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *