Susy Susanty : Akibat Aturan Poin Diubah Bulu Tangkis jadi Sulit Dinikmati!

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti menilai tiga aturan baru dari Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Dari seluruh aturan baru itu, perubahan penghitungan poin adalah yang paling disoroti.

Susy Susanty : Akibat Aturan Poin Diubah Bulu Tangkis jadi Sulit Dinikmati!

Terdapat tiga aturan baru yang dicanangkan BWF pada awal musim 2018, yakni keharusan pemain elit bertanding minimal 12 turnamen dalam setahun, perubahan batas tinggi servis, serta penghitungan skor.

Penghitungan skor dari reli poin 21 menjadi 11 poin adalah perubahan yang paling disayangkan oleh Susy. Sebab, aturan itu bisa mengubah pola permainan dan latihan tiap atlet.

“Perubahan skor 15 ke 21 saja butuh empat sampai lima tahun penyesuaiannya. Sekarang, saat orang sudah menikmati permainan poin 21, diubah lagi aturannya. Kami ingin tahu sebetulnya bulu tangkis mau dibawa ke mana?” ujar Susy dalam rilis Humas PBSI.

“Badminton sudah populer, lalu kenapa tidak dipertahankan dulu. Kalau ada yang kurang bisa ditambah tapi tidak secara drastis,” tambahnya.

Penghitungan skor 11 poin itu rencananya akan dimainkan sebanyak lima game. Apabila pertandingan imbang 10-10, maka laga bisa dilanjutkan sampai skor maksimal 15-14.

Perpindahan sisi lapangan terjadi pada game kelima saat kedudukan angka 6. Kemudian, sesi berdiskusi dengan pelatih diberikan maksimal dua kali di sepanjang pertandingan.

Penghitungan skor 11 x 5 memang belum resmi diberlakukan. Namun kabarnya, sistem baru itu akan digunakan pada Olimpiade Tokyo 2020.

“Penerapan skor 11 untuk persiapan Olimpiade 2020, waduh terlalu mepet. Perubahan skor akan mempengaruhi permainan, pola main, program latihan dan sebagainya,” tutur legenda tunggal putri Indonesia tersebut.

Bukan hanya atlet saja yang dirugikan, lanjut Susy, sistem penghitungan skor yang baru juga bisa mengurangi kualitas pertandingan ketika disaksikan. Menurutnya, penonton jadi tidak bisa menikmati pertandingan karena ritme permainannya terlalu cepat.

“Bagaimana misalnya jika ada pemain ketinggalan terus menyusul, seperti kemarin Firman (Abdul Kholik) yang ketinggalan 14-20 lalu bisa menang lewat adu strategi, fisik dan keberanian. Nah, kalau menggunakan skor 11 x 5 enggak ada lagi tontonan seperti itu. Jadinya kita agak susah menikmati permainan badminton,” pungkas Susy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *