Perayaan Paskah di Monas Sempat Ditentang

Pihak Gereja Bethel Indonesia (GBI) Glow mengaku sempat mendapat penolakan terkait penyelenggaraan perayaan Paskah di kawasan Monumen Nasional (Monas). Penolakan tersebut justru datang dari kalangan kristen.

Humas P‎askah GBI Glow Ronny Rompas ‎mengatakan, di media sosial banyak penolakan dari umat kristiani lainnya. Mereka yang menolak menyebut, perayaan paskah tak perlu digelar besar-bersaran di tanah lapang yang luas.

Selain itu, perayaan keagamaan juga pernah dilarang oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. S‎edangkan alasan lainnya, sangat ditakutkan perayaan Paskah di Monas hendak bersaing dengan Reuni 212 yang digelar umat muslim pada akhir tahun lalu.

“Ada yang bilang ini tandingan 212. Kami bilang, bukan tandingan karena sebelum 212 kami sudah lakukan tahun 2015. Kami jelas ini doa ibadah untuk jemaat, kota, dan negara,” ucap Ronny, ditemui di Monas, Jakarta, Minggu, 1 April 2018.

Bagi kalangan yang menolak, Ronny menyampaikan pesan, berdasarkan pernyataan Alkitab, acara Paskah ‎harus dilakukan di alam terbuka. Peristiwa itu terlihat mulai dari peristiwa penyaliban hingga Yesus bangkit dari kubur.

“Dan prinsip pertama kami, kami sudah lakukan dan berkali-kali gereja biasa bikin acara di sini. Lingkungan Monas,” jelas dia.

Pihak GBI Glow pada akhirnya tetap melaksanakan Paskah di lapangan Monas. Pelaksanaan tersebut juga telah mendapat restu dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Meski banyak penolakan, banyak umat kristen yang datang untuk merayakan rasa syukurnya perayaan Paskah di Monas.‎ Ribuan jemaat GBI Glow memadati kawasan Monas sejak pagi tadi demi mengikuti perayaan Paskah. Perayaan ini merupakan‎ salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Perayaan Paskah di Monas yang digagas GBI Glow kali ini merupakan yang kedua kalinya. Pertama kali perayaan Paskah yang digelar di Monas terjadi pada 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *