Rekonsiliasi Digunakan Untuk Tangkal Konflik

Staf Ahli Deputi V Kantor Staff Presiden Ifdhal Kasim menganggap UnSertag-UnSertag Pemerintahan Aceh (UUPA) belum mampu menyembuhkan masyarakat Aceh dari konflik. Sebagai daerah pascakonflik, masyarakat Aceh perlu penyembuhan secara psikologis.

Rekonsiliasi Digunakan Untuk Tangkal Konflik

Namun sayangnya, penyembuhan psikologis pun belum ditangani dengan baik. Ifdhal menyebut, cara terbaik saat ini untuk mencegah konflik muncul kembali adalah dengan rekonsiliasi.

“Rekonsiliasi ini perlu ditangani pemimpin Aceh dengan serius,” ujar Ifdhal dalam diskusi ‘Meneropong Aceh dari Jauh’ di Atjeh Connection Sarinah, Jakarta Pusat, Sabtu, 17 Februari 2018.

Rekonsiliasi dianggap cara tepat lantaran UUPA bagai jalan di tempat Serta tak pernah menyembuhkan psikologis masyarakat Serambi Mekkah.

Rekonsiliasi yang dimaksud Ifdhal adalah menjembatani komunikasi seluruh masyarakat Aceh, dari masyarakat pesisir hingga dataran tinggi sehingga bisa melihat Aceh secara keseluruhan.

“Saat ini masyarakat perlu rekonsiliasi internal antarmasyarakat Aceh sehingga bisa menghindari konflik muncul kembali. Jangan sampai menunggu terjadinya konflik untuk melakukan rekonsiliasi,” tegasnya.

Pengangguran Ditangkap karena Narkoba

Santo Paskalis Zuas Paga alias Santo, tunakarya berusia 29 tahun, ditangkap tim Reserse Kriminal (Reskrim) Kepolisan Sektor (Polsek) Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia kedapatan menyimpan sabu dan ganja.

Pengangguran Ditangkap karena Narkoba

Santo ditangkap atas laporan warga. Warga Warakas curiga Santo bertransaksi narkoba di daerah mereka, Kamis dini hari, 1 Februari 2018.

Usai penangkapan, polisi menggeledah rumah Santo. Kapolsek Tanjung Priok, Kompol Supriyanto, mengatakan, timnya menemukan 0,93 gram sabu dan 1,75 gram ganja. “Pelaku (kini) sudah di kantor polisi,” kata Kapolsek Tanjung Priok, Kompol Supriyanto.

Orang Tua Anak penderita PJB Bersyukur di Komunitas LHC

Orang tua dari anak penderita Penyakit Jantung Bawaan (PJB) bersyukur telah bergabung dengan komunitas Little Heart Community (LHC). Sebuah komunitas yang peduli terhadap anak-anak penderita jantung bawaan.

Orang Tua Anak penderita PJB Bersyukur di Komunitas LHC

Salah satu orang tua yaitu JA Denni, ibu dari anak Muhammad Furqan mengaku jika dirinya senang bergabung di komunitas LHC.

“Saya senang banget bergabung dengan LHC, punya banyak teman berbagi pengalaman. Saya tidak merasa sendiri beda banget dengan sebelumnya.” Kata Denni saat ditemui di acara event sosialisasi LHC saat car free day, kawasan Jakarta Pusat, Minggu 28 Januari 2018.

Denni mengaku sudah setahun bergabung dengan LHC. Sebelumnya dia belum mengetahui keberadaan LHC hingga anaknya menginjak usia 3 tahun. Sebelum mengenal LHC Denni merasa sendiri dan merasa tidak ada tempat berbagi.

Namun setelah satu tahun bergabung, dirinya mengaku banyak mendapat teman berbagi dan informasi bermanfaat tentang merawat anak penderita jantung bawaan.

“Di sini jadi banyak teman, banyak saudara karena dari seluruh Indonesia bergabung, saling tukar informasi tentang cara merawat anak dari pasca dan sebelum operasi sampai yang sudah besar. Gimana kan karena memang perlu perlakuan khusus yang sedikit berbeda dengan anak normal,” jelas Denni.

Tidak hanya Denni, Sumiyati orang tua dari anak Muhammad Idhar juga merasakan manfaat yang sama setelah bergabung dengan komunitas LHC. Manfaat emosional seperti merasa tidak sendiri dan mendapat banyak teman dan saudara menjadi energi positif bagi dirinya.

“kalau saya sih senang menambah teman, banyak saudara di LHC, kita saling menguatkan juga berbagi informasi. kita banyak belajar dari senior yang lebih dahulu mengalami,” ungkap Sumiyati.

Mahasiswa Hanseo University Korea & UKDW Antusias Ikuti Joint Program

Sebanyak 13 mahasiswa Hanseo University, Korea, mengikuti joint program yang diselenggarakan Biro Kerjasama dan Relasi Publik (BIRO IV) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta.

Mahasiswa Hanseo University Korea & UKDW Antusias Ikuti Joint Program

Dua mahasiswa di antaranya, mengaku terkesan dengan kegiatan seminar dan terjun langsung menyelami kehidupan masyarakat di Desa Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo. Di sana mereka didampingi mahasiswa UKDW melihat proses pembuatan barang kerajinan dan praktik bersama warga.

“Jika ada kesempatan, saya berharap bisa datang ke Indonesia lagi,” tutur Joo Ha-Hyon.

“Ini merupakan pertama kalinya saya datang ke Indonesia. Orang-orang di sini sangat ramah. Saya sangat tertarik dengan workshop yang diselenggarakan. Ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan,” ucap Seo Woo-Jin.

Sementara itu, Kepala Desa Salamrejo, Dani Pristiawan, menjelaskan tentang salah satu potensi yang ada di daerah tersebut, yaitu kerajinan dari tanaman enau. Dia berharap dengan kegiatan tersebut bisa mempromosikan potensi yang ada di Salamrejo.

Untuk diketahui, kegiatan joint program diawali dengan dengan seminar yang mengangkat tema Global Leadership. Seminar yang berlangsung di Lecture Hall Rudi Budiman ini diikuti oleh sekitar 60 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan staf UKDW, serta rombongan dari Hanseo University.

Acara dibuka oleh Rektor UKDW, Henry Feriadi. Dia menyambut baik kedatangan mahasiswa Hanseo University serta berharap kerja sama yang telah terjalin antara UKDW dan Hanseo University semakin meningkat. Selain itu, joint program juga diharapkan bisa meningkakan wawasan mahasiswa mengenai leadership, dan memberikan pengalaman internasional mahasiswa.

Dalam seminar tersebut masing-masing universitas memilih tiga orang mahasiswa sebagai wakilnya untuk mempresentasikan ide dan pkamungan mereka terkait tema yang telah dipilih. Tiga mahasiswa yang menjadi wakil UKDW sebelumnya telah mengikuti program internasional, sehingga dalam kesempatan ini mereka bisa berbagi pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program di luar negeri.

BPJS Membutuhkan 50 Juta Orang Demi Menyelesaikan Target Peserta 2019

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyampaikan hingga pertengahan Januari 2018 peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) – Kartu Indonesia Sehat (KIS) telah mencapai 189,9 juta orang. Jumlah tersebut menyisakan 20 persen dari target yang mesti diselesaikan hingga 2019.

Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan Maya Amiarny Rusady mengatakan, target keikutsertaan masyarakat tersebut sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2019. Persentase peserta JKN minimal telah mencakup universal health coverage yakni 95 persen dari total penduduk Indonesia.

“Jumlah kepesertaan BPJS per Januari 2018 ini kita sudah menacapai 189,9 juta peserta, artinya sudah 75 persen dari jumlah penduduk Indonesia, jadi kita masih mengejar sekitar 50 juta (peserta) lagi,” ujar Maya kepada Medcom.id, Jumat 19 Januari 2018.

BPJS Kesehatan pun terus berupaya memenuhi target kepesertaan agar semakin banyak masyarakat dapat terlayani. Menurut Maya, beragam cara dilakukan agar masyarakat mau mendaftar sebagai peserta, dengan memberikan kemudahan saat mendaftar.

“Tentu kita selalu mencari masyarakat untuk ikut bergabung, kemudian peserta bisa dengan mudah mendaftarkan dirinya,” tutur Maya.

BPJS telah membuka kerja sama dengan hampir seluruh pemerintah daerah hingga tingkat kecamatan untuk memperluas cakupan kepesertaan. Selain itu, pemanfaatan perkembangan teknologi informasi juga ikut dilakukan penyesuaian.

“Kita buka secara daring, kemudian bisa juga datang ke kecamatan, lalu di rumah sakit manapun juga bisa lapor yang nanti dicarikan dan diberi tahu caranya untuk mendaftar jadi peserta JKN,” ungkapnya.

Maya optimis BPJS bisa memenuhi target peserta JKN pada 2019. Tak cukup di situ, rumah sakit yang menjadi provider BPJS Kesehatan juga ditargetkan menjalankan program kesehatan yang bisa dimanfaatkan seluruh masyarakat. Hingga saat ini, kata Maya, dari 2800 RS yang terdaftar di Kementerian Kesehatan sebanyak 2268 di antaranya telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

“Supaya sisa 50 juta peserta ini bisa kita cari dalam waktu dekat, sekarang pertumbuhan peserta BPJS dua juta per bulan ya, artinya kita juga mengupayakan agar lebih cepat dari itu,” papar Maya.

Tingkat Kepuasan Meningkat

Tingkat kepuasan peserta BPJS Kesehatan dan tingkat kepuasan fasilitas kesehatan (faskes) rekanan tercatat meningkat. Maya manyatakan pencapaian ini terbilang cukup baik selama periode tahun 2017.

BPJS Kesehatan mencatat, pada 2017 indeks kepuasan peserta sebanyak 79,5 persen. Untuk indeks kepuasan faskes sebesar 75,9 persen. Sedangkan bila dibandingkan dengan indeks pada 2016, untuk kepuasan peserta sebesar 78,6 persen dan faskes 76,2 persen.

“Artinya kalau dibandingkan dengan asuransi negara lain BPJS ini sudah cukup bagus. Kita ini baru berjalan empat tahun, dan ini tahun kelima,” ungkapnya.

Optimalisasi pelaksanaan JKN juga bakal didorong dengan adanya Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2017 yang memungkinkan BPJS Kesehatan berkolaborasi dengan 11 lembaga negara lainnya. Maya meyakini tingkat pelayanan kesehatan di Tanah Air masih lebih baik ketimbang negara lain di wilayah Asia.

“Kita sudah mencapai 189 juta peserta artinya sudh 78 persen penduduk Indonesia, negara lain ada yang sampai 28 tahun, seperti Korea belum semuanya,” tkamu snya.

Pemerintah Akan Mempercepat Penanggulangan Gizi Buruk di Asmat

Pemerintah melalui Kantor Staf Kepresidenan (KSP) melakukan koordinasi penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) penyakit campak dan gizi buruk di Asmat. Sejumlah kementerian dan lembaga terkait turut serta dalam rapat kali ini.

Pemerintah Akan Mempercepat Penanggulangan Gizi Buruk di Asmat

Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden Sylvana Maria Apituley mengatakan, kehadiran KSP ini merupakan bentuk intervensi langsung dari Presiden Joko Widodo agar segera menangani KLB di Asmat.

“Kami di sini untuk menemani, mendukung dan menegaskan bahwa negara hadir di Tanah Papua. Papua tidak pernah dilupakan di hati Presiden,” kata Sylvana sebagaimana dilansir dari Antara, di Jakarta, Rabu 17 Januari 2018.

Mereka yang ikut dalam rapat di Posko Penanggulangan Campak dan Gizi Buruk Agats, di antaranya Tenaga Ahli Utama Bidang Kajian Pengolahan Isu Ekologi Sosial Budaya Strategis KSP Bimo Wijayanto, Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar, Danrem Merauke, dan tim kesehatan dari Mabes TNI, tim Kementerian Kesehatan, tim Kementerian Sosial.

Bupati Asmat Elisa Kambu mengungkapkan, kasus KLB campak dan gizi buruk ini terjadi sejak September 2017, dan baru diketahui pada akhir Desember 2017. Kambu mengatakan, pihaknya langsung bekerja sejak 1 Januari 2018 walaupun dengan keterbatasan tenaga medis dimiliki.

Bupati menyebut, pemerintah kabupaten memiliki satu RSUD tipe D dan 16 puskesmas. Namun, hanya tujuh puskesmas saja yang memiliki dokter. Sedangkan, jumlah dokter yang bertugas di Asmat sebanyak 12 dokter umum dan satu dokter spesialis bedah dari Program Nusantara Sehat Kemenkes.

Ia mengaku sangat terbantu lantaran pemerintah pusat dan TNI mengirim tim medis dan bantuan obat-obatan. Bantuan juga datang dari Tim Kesehatan Polda Papua, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Sosial, dan Pemerintah Kota Surabaya berupa sembako.

Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Bambang Wibowo mengatakan pihaknya akan siap membantu dan melakukan pendampingan sekaligus memberikan pelayanan. Tim dari Kemenkes yang turun ke Asmat merupakan dokter spesialis, dokter umum, dan untuk melaksanakan imunisasi akan bergabung bersama TNI dan Polri untuk penanggulangan KLB campak ini.

Dia juga menyatakan akan melakukan berbagai langkah untuk penanggulangan, rehabilitasi dan tindakan selanjutnya usai penanganan KLB ini agar tidak terulang kembali. Sedangkan dari tim Kemensos mengungkapkan pihaknya telah mengirimkan bantuan makanan siap saji sebanyak 6,5 ton pada tahap awal dan akan menambah jika masih diperlukan.

Bimo Wijayanto mengakui semua kementerian, lembaga dan pemerintah daerah sudah bekerja sesuai dengan wilayahnya masing-masing dan saling berkoordinasi. Namun Bimo mengingatkan perlu adanya tindaklanjut penanganan KLB ini dengan memperhatikan budaya masyarakat, agar program imunisasi terhadap anak ini bisa berhasil di Asmat.

Dua Tahun Melawan Rasa Sakit akibat Bom Thamrin

Rasa sakit akibat teror bom Thamrin belum hilang dari tubuh Agus Kurniawan. Derita dari aksi teror itu masih dia rasakan walau peristiwa itu terjadi dua tahun lalu.

“Saya waktu bom meledak, ada di dekat pelaku. Saya salah satu yang beruntung karena masih hidup karena terhalang tembok (pos polisi). Dan saat itu, telinga saya yang kena,” kata Agus kepada Medcom.id, di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu, 14 Januari 2018.

Kendati selamat, Agus merasa kesehatannya memburuk setelah insiden bom Thamrin. Dia mengaku awalnya hanya merasa sakit di telinga. Namun, pada awal 2018, dia sempat tak sadarkan diri dan dibawa ke Rumah Sakit Islam Jakarta.

“Dokter mendiagnosa penyakit itu mulai menyebar ke otak saya dan leher,” cerita dia.

Agus yang menggunakan penyanggah leher menuturkan saraf otaknya mengalami kerusakan dan berpengaruh ke otot leher. Setelah mendapat perawatan intensif, dia pun harus menjalani perawatan jalan untuk mengobati penyakitnya.

“Saya kurang mengerti medis, tetapi saya dari dokter saya disarankan memakai ini (penyanggah leher). Tidak selalu saya pakai, tetapi kalau kegiatan di luar seperti ini, saya selalu pakai. Pernah saya bandel, akibatnya saya tidak sadarkan diri lagi,” tutur dia.

Menurut dia, dokter yang merawatnya menganjurkannya untuk pindah kerja. Pasalnya, dia tidak boleh terlalu capai atau terlalu banyak menggunakan fisik.

Setiap enam bulan sekali, dia mendapat bantuan untuk rawat jalan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Rekomendasi sang dokter untuk bekerja tanpa terlalu memforsir fisiknya pun diberikan ke LPSK.

“Selama ini mereka membantu saya dan korban lainnya,” lanjut dia.

Agus mengharapkan dana kompensasi dari pemerintah bisa segera diberikan kepada korban. Pasalnya, dengan kesehatan semakin menurun, dia berharap memiliki pegangan dana untuk berobat.

Hal senada juga dirasakan Frank, warga Jerman yang menjadi korban Bom Thamrin. Saat kejadian, dia mengalami luka bakar di bagian lengan dan kaki kanan.

“Kemudian membran telinga saya juga pecah. Dua jari saya hampir putus,” cerita dua.

Frank mengatakan seharusnya dia mendapat ganti dana dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk biaya pengobatannya. Namun, hal ini masih belum diterimanya.

“Saya waktu pertama kali terluka memang biaya rumah sakit ditanggung Pemprov DKI. Saat rawat jalan, harusnya mendapat ganti dana. Namun belum (terima). Mungkin sedang diurus,” jelas dia.

Teror bom bunuh diri disertai penembakan terjadi di kawasan MH Thamrin pada 14 Januari 2016. Aksi yang dilakukan empat pelaku, Dian Juni Kurniadi, Muhammad Ali, Afif, dan Ahmad Muhazan, itu menewaskan delapan orang dan 25 lainnya terluka.

Memperingati tragedi tersebut, para korban dan keluarganya menggelar aksi damai. Mereka menuntut pemerintah untuk segera memenuhi hak-hak korban, salah satunya hak kompensasi.

Usai Antar Makanan Driver Ojek Online Diduga Dipukul Satpam

Insiden pemukulan terjadi antara driver ojek online bernama Rosi Suhendi dengan seorang satpam perumahan Mutiara Taman Palem Cluster bernama Berjuang Zaboa. Insiden itu terjadi Rabu, 10 Januari 2018, malam.

Usai Antar Makanan Driver Ojek Online Diduga Dipukul Satpam

Kapolsek Cengkareng Komisaris Polisi Agung Budi Laksono mengatakan kejadian berawal saat Rosi mengantarkan makanan ke perumahan Mutiara Taman Palem Cluster Blok C RW 14, Cengkareng, Jakarta Barat. Saat itu, Zaboa meminta kartu tanda penduduk (KTP) driver, namun karena tidak terima sempat terjadi cekcok.

“Kemudian korban pun meninggalkan KTP di pos, lalu korban masuk ke kompleks perumahan,” kata Agung saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis, 11 Januari 2018.

Agung menjelaskan, usai mengantarkan makanan tersebut, Rosi kembali ke pos satpam untuk mengambil KTP yang ditinggalkan.

Namun, cekcok kembali terjadi hingga akhirnya pemukulan diduga dilakukan Zaboa terhadap Rosi. Setelah itu, Rosi melarikan diri.

Tapi, tak lama kemudian datang beberapa driver ojek online lain yang diduga rekan Rosi. Diduga beberapa dari mereka sempat merusak pos. Meski begitu, kejadian tersebut tak berlangsung lama.

Polisi yang ke lokasi langsung mengamankan Zaboa dan Rosi, serta beberapa driver ojek online. Hingga kini, mereka masih diperiksa intensif. “Pelaku, saksi, dan korban dibawa ke Polsek Cengkareng,” jelas Agung.

Sulut Dilanda Gempa 4,9 SR

Gempa berkekuatan 4,9 skala richter (SR) mengguncang Sulawesi Utara. Guncangan ini terjadi sekitar pukul 23.39 WITA.

Sulut Dilanda Gempa 4,9 SR

Kepala Stasiun Geofisika Manado Irwan Slamet mengatakan, pusat gempa terletak pada koordinat 0.79 LU,125.34 BT di kedalaman 36 kilometer. Lokasi pusat gempa berada di Laut Maluku bagian utara dan diperkirakan berjarak 72 km sebelah tenggara Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulut

“Dampak gempa ini dirasakan di daerah Kabupaten Minahasa Tenggara, Minahasa Selatan, Kota Manado dan Kota Bitung dalam skala intensitas II SIG-BMKG (II-III MMI),” kata Irwan dalam keterangannya yang diterima Medcom.id, Sabtu, 6 Januari 2017.

Irwan mengatakan, gempa ini terjadi akibat adanya aktivitas subduksi lempeng tektonik di Laut Maluku bagian Utara.

“Hingga pukul 00:15 WITA, belum terjadi aktivitas gempa susulan. Masyarakat diimbau agar tetap tenang, dan terus mengikuti arahan BPBD dan BMKG,” imbau Irwan.

Dia juga mengimbau kepada masyarakat di daerah pesisir pantai agar tidak terpancing isu-isu yang tidak benar. Ia pun memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Sandi Berduka atas Kepergian Yon Koeswoyo

Kepergian vokalis Koes Plus Yon Koeswoyo menimbulkan duka bagi para penggemarnya, termasuk Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno. Sandi tak menyangka musisi kawakan itu tutup usia.

“Sangat berduka. Kebetulan Rabu (3 Januari 2018) kemarin saya baru memainkan lagu beliau bersama Prof Agus Suradika (Kepala Badan Kepegawaian Daerah DKI),” kata Sandiaga di RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur, Jumat, 5 Januari 2018.

Sandi sempat memainkan gitar dan membawakan lagu milik Koes Plus berjudul Why Do You Love Me. Dia mengaku menikmati lagu-lagu Koes Plus.

Menurut dia, Yoen pun sangat menginspirasi musisi muda untuk terus berkarya dalam industri kreatif. “Koes Plus ini legenda dari industri kreatif,” ujar dia.

Yon Koeswoyo meninggal di usia berusia 77 tahun. Vokalis sekaligus gitaris ini
sudah lama mengindap komplikasi penyakit.

Yon lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 27 September 1940. Dia adalah anak keenam dari sembilan bersaudara.

Pada akhir 2016, Yon sempat menggelar konser bersama Koes Plus dengan tajuk “Andaikan Koes Plus Datang Kembali”. Dalam acara itu, ia meminta band-band baru di Tanah Air supaya berkiprah dan bertahan lama seperti Koes Plus.