5 Orang Pengedar PCC Berhasil Ditangkap

Sudah puluhan orang remaja yang kini menjadi korban dari penyalahgunaan obat terlarang di Kendari, Sulawesi Tenggara dimana polisi serta Baserta Narkotika Nasional (BNN) sudah berhasil membekuk lima orang terduga pengedar obat terlarang di Kendari yang telah menyebabkan puluhan remaja dirawat di rumah sakit hingga ada yang sampai meninggal dunia.

5 Orang Pengedar PCC Berhasil Ditangkap

serta seperti yang sudah ditayangkan dalam acara Liputan6 Petang SCTV, hari Kamis (14/9/2017), diman ada puluhan remaja di Kendari, kota Sulawesi Tenggara telah mengalami overdosis narkoba golongan G. Kini Polda Sulawesi Tenggara yang sudah bekerja sama dengan pihak BNN langsung bergerak dengan cepat serta berhasil menangkap lima orang terduga dari penyalur obat terlarang jenis Somadril serta Tramadol 1 di antaranya berprofesi sebagai apoteker.

Selain itu juga ada polisi mengamankan ribuan butir obat-obatan jenis psikotropika. Pserta kini para pelaku dikenakan dengan Unsertag-Unsertag Kesehatan yang terkait penyedia, penadah serta penjual dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Disisi lain, suasana haru juga menyelimuti keluarga korban meninggal dunia akibat kasus tersebut, yaitu Reski, adalah warga Jalan Bunga Palem, Kelurahan Watu-Watu, Kecamatan Kendari Barat. Sesertagkan korban tewas selesai meminum pil Mumbul yang dicampur dengan menggunakan pil Paracetamol Cafein Carisoprodol (PCC). serta korban juga merasa kepanasan serta kemudian melompat ke laut pada saat sesertag kondisi mabuk, serta korban akhirnya tenggelam serta langsung tewas.

Pihak Polisi Sudah Terima Laporan Dari PPATK Terkait Rekening Asma Dewi Untuk Saracen

Jakarta – Polisi sampai saat ini masih mengusut kasus tentang ujaran kebencian Asma Dewi, termasuk terkaitnya antara ibu rumah tangga itu dengan para sindikat Saracen.

Sedangkan Bareskrim Polri juga telah menerima laporan dari hasil analisis (LHA) serta Pusat Pelaporan serta Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) perihal dengan 14 rekening milik sekelompok Saracen serta satu milik ibu Asma Dewi.

Pihak Polisi Sudah Terima Laporan Dari PPATK Terkait Rekening Asma Dewi Untuk Saracen

“Pihak PPATK juga sudah menyerahkan LHA kepada tim Bareskrim tadi sekitar jam dua siang,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul di Mabes Polri langsung, Jakarta Selatan, pada hari Rabu (13/9/2017).

“Saat ini oleh pihak penyidik akan dilakukan semua analisis serta membandingkan fakta-fakta lainnya yang didapat dengan jejak digital,” dia melanjutkan.

Martinus juga menjelaskan, bahwa pada saat ini tim penyidik juga sedang mengkaji semua transaksi yang sudah tercatat di laporan PPATK, diman kemudian akan dikaitkan dengan semua fakta-fakta lain pada saat selama penyidikan.

“Seperti sudah ada beberapa jejak-jejak digital apa saja yang sudha ditemukan. Dan kemudian seperti apa yang sudah ada dalam data-data dari pihak gigabyte yang telah diperoleh. Ini juga dibuka satu-satu,” ujar dia.

Dan dari hasil pemeriksaan tersebut, Martinus juga melanjutkan, tim penyidik akan mengetahui aliran dana yang sudah masuk ke Saracen dimana berasal dari pihak mana saja. Pihak kepolisi juga kemudian akan segera memburu para donaturnya.

“Dimana dapat dilihat di situ, dibaca dari transaksi. Hanya saja orang-orang itu kan harus segera dicari juga dari latar belakangnya. Ya nanti akan segera dilihat, seperti yang sudah Asma Dewi, dia ngalir misalnya ke NS,” dia memaparkan.

Diduga Bunuh Diri Ternyata Seorang Wanita Tewas Di Tangan Sang Suami

Ada seorang wanita yang telah ditemukan tewas didalam kamar rumahnya sendiri di wilayah Tambelang, Kabupaten kota Bekasi, dimana luka lebam dalam leher korban yang pada sebelumnya telah dilaporkan karena gantung diri, namun yang mengejutkannya adalah ternyata dibunuh oleh suaminya sendiri.

Diduga Bunuh Diri Ternyata Seorang Wanita Tewas Di Tangan Sang Suami

Seperti yang sudah ditayangkan dalam acara berita Patroli Siang Indosiar, hari Selasa (5/9/2017), dimana ada banyak tangis histeris Sopinah yang menyelimuti kedatangan dari sang jenazah putrinya yaitu Intan Sarni di Rumah Duka Desa Sukarapih, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi.

Dimana seluruh anggota keluarga beserta tetangga tak mengira, mengira bahwa wanita yang masih berumur 20 tahun itu telah wafat di tangan suaminya yang bernama Ruki Haryanto.

Dimana pembunuhan Intan Sarni itu terjadi pada hari Kamis, tanggal 31 Agustus 2017 waktu subuh. Dan kematian sang korban awalanya dilaporkan oleh suaminya, karena menurut pengakuan Ruki Haryanto kepada anggota keluarga istrinya yang baru saja dinikahi dalam waktu 1 tahun tersebut telah meninggal dunia akibat gantung diri dengan luka yang lebam pada bagian leher.

Tetapi karena keahlian serta kejelian pihak kepolisian yang tiba langsung di lokasi, dimana luka lebam pada bagian leher korban telah dicurigai bukan karena dari gantung diri. Untuk memastikan penyebab dari kematian korban, polisi Polsek Tambelang langsung membawa sang jenazah ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, daerah Jakarta Timur, agar bisa menjalani autopsi. Dan dari hasil olah tkp dan autopsi, aparat polisi menyimpulkan bahwa putri ketiga dari empat bersaudara itu telah tewas akibat dicekik oleh sang suami di dalam kamar tidurnya.

Akhirnya pihak polisi langsung menangkap Ruki Haryanto tidak lama setelah kejadian pembunuhan. Dimana pemuda yang berusia 24 tahun itu akhirnya mengakui perbuatannya disebabkan rasa kesal dengan sifat cemburu dari korban yang berlebihan, dan mereka juga sempat beradu mulut hanya karena sang pelaku memberikan uang kepada orangtuanya tanpa sepengetahuan sang istri.

Seorang Ibu Dibunuh Oleh Anakanya Di Sungai

Masyarakat digegerkan atas temuan jenazah wanita yang terapung di Sungai Serimah, kota Serdang Bedagai, Sumatera Utara, pada hati Senin 28 Agustus sore, untuk mengetahui kisah tragis sang korban. Dimana Wanita itu telah tewas karena dibunuh dan yang mengagetkan bahwa pelakunya adalah anak kandungnya sendiri.

Seorang Ibu Dibunuh Oleh Anakanya Di Sungai

Seperti yang sudah ditayangkan oleh Patroli Siang Indosiar, pada hari Rabu (30/8/2017), kota Sangkot Marpaung, dimana pelaku sekaligus juga anak dari sang korban ditangkap langsung oleh petugas dari Polsek Bandar Khalipah, Tebing Tinggi, hari Selasa 29 Agustus.

Dugaan kuat, pria yang kini telah berusia 37 tahun itu telalh membunuh ibu kandungnya yang bernama Sofi Boru Parhusif karena mengidap penyakit jiwa yang diderita oleh sang pelaku telah kambuh. Dan masih belum jelas bagaimana cerita mulanya, akan tetapi tubuh korban sudah dipenuhi dengan banyak luka bacokan dari senjata tajam pada sekujur tubuh korban.

Serta jenazah dari korban kemudian langsung dibuang oleh sang pelaku ke sungai. Pelaku mengaku mendengar telah bisikkan gaib agar dengan segera dirinya menghabisi nyawa dari sang ibundanya sendiri.

Kejadian tersebut mulai bisa terungkap setelah anggota sanak keluarga Sofi langsung melaporkan kehilangan korban kepada pihak kepolisian.

Dan kini jenazah Sofi Parhusif yang telah mengapung di Sungai Serimah itu sangat mengejutkan para warga Desa Gelam. Dimana jenazah korban sudah ditemukan pada hari Senin sore itu telah terdapat banyak bekas bacokan dan sayatan dari benda tajam.

Dan sampai saat ini, anggota kepolisi masih mengunggkap dan menyelidiki pengakuan pelaku sekaligus memeriksa kondisi kejiwaan dari anak kandung korban yang tega membunuh ibunya tersebut.

Kisah Bayi Debora Menjadi Pelajaran Bagi Semua Rumah Sakit

Jakarta – Lembaga Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) akan segera menindaklanjuti kejadian atas meninggalnya bayi yang bernama Tiara Deborah Simanjorang dalam uasia 4 bulan. Dan dari pihak keluarga serta Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres juga akan segera langsung dimintai keterangan.

Kisah Bayi Debora Menjadi Pelajaran Bagi Semua Rumah Sakit

Dengan Meninggalnya bayi yang bernama Deborah diduga disebabkan keterlambatan penanganan pada saat bayi dalam keadaan kondisi kritis. “Keterangan serta informasi yang akan dikumpulkan pada saat nanti bisa menjadi pertimbangan bagi lembaga BPKN dalam bersikap serta memberi rekomendasi kepada anggota pemerintah,” ujar anggota BPKN 2017-2020, yaitu Rizal E Halim, seperti yang dikutip dari Antara pada hari Minggu (10/9/2017).

Sedangkan BPKN pun juga akan berkoordinasi dengan lembaga Kementerian Kesehatan serta Komisi Ombudsman Nasional. Dan Rizal juga berharap kepentingan kemanusiaan akan lebih dikedepankan pada saat-saat genting.

“Kita juga berharap pada saat dihadapkan dalam masalah kemanusiaan, maka semua kepentingan komersial ada juga baiknya dikesampingkan untuk sementara,” kata dia.

Dan Rizal juga mengatakan, bahwa kasus meninggalnya bayi yang bernama Deborah di RS Mitra Keluarga Kalideres bisa menjadi momentum untuk menata semua layanan rumah sakit dalam skala nasional.

“Serta Layanan dari rumah sakit juga harus dapat menyeimbangkan antara kepentingan bisnis atau kepentingan kemanusiaan,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Dan Rizal juga mengakui memang keduanya seringkali tidak akan sejalan. Tetapi, manajemen rumah sakit seyogyanya bisa bijak dalam menyikapi kasus per kasus.

Sedangkan di sisi lain, Rizal juga berharap seluruh rumah sakit untuk segera mengikutsertakan diri ke dalam program BPJS Kesehatan yang saat ini sudah berjalan sejak 2014. Karena Hal ini bisa sejalan dengan Nawa Cita Presiden Jokowi, khususnya dalam memberikan rasa keadilan bagi seluruh umat masyarakat Indonesia.