Menpora Berharap Akan Ada Banyak Atlet Berprestasi dari Pondok Pesantren

Menteri Pemuda serta Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi berharap agar pondok pesantren dapat membisertai lahirnya atlet-atlet berprestasi. Hal tersebut dikatakan Menpora saat menghadiri acara Karnaval Budaya sekaligus memperingati hari lahir ke-33 Pondok Pesantren Asshidiqqiyah Jakarta.

Menpora Berharap Akan Ada Banyak Atlet Berprestasi dari Pondok Pesantren

“Jadi ke depan kita harap banyak atlet dari pondok pesantren, ketika dia bertanding Badminton, Taekwondo, Pencak Silat sambil dalam hatinya menghafalkan Al Quran. serta yang harus kita dukung atlet-atlet sumbernya juga dari santri pondok pesantren,” kata Menpora.

Menpora mengaku mendorong pondok pesantren agar dapat menggalakan semua kegiatan yang bermanfaat. tak hanya itu, tetapi juga mengasah kemampuan di bisertag olah raga, agar menjadi santri plus atlet berprestasi.

“Seperti yang kita ketahui banyak santri-santri di Pesantren Asshidiqqiyah yang mendulang prestasi di bisertag olahraga, kita harus terus mendukung serta mengembangkan potensi tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut Menpora m6bahkan, dengan banyak santri yang tumbuh menjadi atlet dapat membawa nama Indonesia semakin disegani oleh negara-negara lain.

“Olahraga itu menjadi tolak ukur sebuah bangsa itu besar, sebuah bangsa itu dapat sejajar dengan bangsa yang lain. Ini sangat sangat penitng agar dapat memadukan kekuatan fisik, kekuatan rohani, kekuatan jasmani serta kelak dari santrilah Indonesia semakin jaya di masa depan,” tambahnya.

Para Masyarakat tak Menuntut Adanya Musala di Semua Halte Transjakarta

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno berencana membangun musala di setiap halte Transjakarta (TJ). Kebijakan itu justru mendapat pkamungan berbeda dari penumpang.

Para Masyarakat tak Menuntut Adanya Musala di Semua Halte Transjakarta

Wulan, 30, misalnya, menuturkan musala di setiap halte akan membutuhkan ruangan lebih. tak hanya untuk salat, t4 wudhu serta sumber airnya akan memakan t4.

“Untuk setiap halte enggak perlu. Soalnya pastikan membutuhkan ruang lebih. Mulai dari t4 wudhunya, t4 salatnya sendiri pasti membutuhkan space yang lebih,” kata Wulan saat berbincang dengan Medcom.id di Halte Monas, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Maret 2018.

Wulan menuturkan, baiknya pembuatan musala diprioritaskan di halte-halte yang berukuran besar. Dia bilang, jika memaksakan di halte yang kecil, saat beribadah juga akan kurang nyaman.

“sebab kalau memaksakan pastinya membutuhkan biaya yang tak sedikit,” sambung dia.

“Sebagai muslim kita pasti dapat memosisikan diri kapan waktunya salat, ditunda memang tak boleh. Tapi kan sedapat mungkin kita memprediksi kapan serta di mana dapat salat,” imbuh Wulan.

Pengguna Transjakarta lainnya, Sulistyo, 28, mengatakan tak masalah jika ingin dibangun musala di setiap halte. Namun, perlu perhitungan matang dalam hal memberikan fasilitas t4 ibadah di ruang terbuka umum.

“Segalanya harus diperhitungkan, jangan sampai dibuat seasertaya. Namanya t4 ibadah dibikin nyaman biar dapat khusyuk salatnya,” ujar Sulistyo.

Sedikitnya 3 halte telah menyediakan musala, di antaranya Halte Monas, Glodok, serta Karet. Ke3 halte tersebut sudah mumpuni dalam penyediaan ruang untuk umat muslim melaksanakan ibadah salat.