Para Masyarakat tak Menuntut Adanya Musala di Semua Halte Transjakarta

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno berencana membangun musala di setiap halte Transjakarta (TJ). Kebijakan itu justru mendapat pkamungan berbeda dari penumpang.

Para Masyarakat tak Menuntut Adanya Musala di Semua Halte Transjakarta

Wulan, 30, misalnya, menuturkan musala di setiap halte akan membutuhkan ruangan lebih. tak hanya untuk salat, t4 wudhu serta sumber airnya akan memakan t4.

“Untuk setiap halte enggak perlu. Soalnya pastikan membutuhkan ruang lebih. Mulai dari t4 wudhunya, t4 salatnya sendiri pasti membutuhkan space yang lebih,” kata Wulan saat berbincang dengan Medcom.id di Halte Monas, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Maret 2018.

Wulan menuturkan, baiknya pembuatan musala diprioritaskan di halte-halte yang berukuran besar. Dia bilang, jika memaksakan di halte yang kecil, saat beribadah juga akan kurang nyaman.

“sebab kalau memaksakan pastinya membutuhkan biaya yang tak sedikit,” sambung dia.

“Sebagai muslim kita pasti dapat memosisikan diri kapan waktunya salat, ditunda memang tak boleh. Tapi kan sedapat mungkin kita memprediksi kapan serta di mana dapat salat,” imbuh Wulan.

Pengguna Transjakarta lainnya, Sulistyo, 28, mengatakan tak masalah jika ingin dibangun musala di setiap halte. Namun, perlu perhitungan matang dalam hal memberikan fasilitas t4 ibadah di ruang terbuka umum.

“Segalanya harus diperhitungkan, jangan sampai dibuat seasertaya. Namanya t4 ibadah dibikin nyaman biar dapat khusyuk salatnya,” ujar Sulistyo.

Sedikitnya 3 halte telah menyediakan musala, di antaranya Halte Monas, Glodok, serta Karet. Ke3 halte tersebut sudah mumpuni dalam penyediaan ruang untuk umat muslim melaksanakan ibadah salat.